Udara di siang hari yang panas membakar kulit dan terasa seperti menusuk ke dalam tulang, sudah tak lagi kurasakan seiring dengan langkah kakiku menuju ke sebuah tempat yang berhiaskan bendera kuning dengan berjajar rangkaian bunga berpita hitam. Bukan hanya peluh yang menetes, air mata pun tak henti-hentinya mengalir dari mata-mata sayu dan membasahi pipi. Terdengar alunan merdu mengiris hati orang-orang membacakan
suratYasin di depan tubuh yang terbaring kaku tidak bernyawa dengan diiringi hisakan tangis yang sesekali terdengar.
Selamat jalan sahabat. Maafkan aku, selama hidupmu aku tak bisa seperti mentari yang menghangatkanmu, aku pun bukan pelangi yang mampu memberi warna di hidupmu. Berakhir sudah deritamu sahabat, Allah telah membebaskanmu dari tajamnya jarum suntik, infus yang menancap di kulitmu, dari pahitnya obat yang harus kau telan, serta sakit yang menggerogoti ragamu. Ya Allah, tapi bukan ini yang aku harapkan. Kepergiannya yang tak akan pernah kembali lagi, senyumnya yang tak akan kulihat lagi, tawanya yang tak
kankudengar lagi. Bukan ini. Secepat itukah dia harus pergi meninggalkan kami selamanya.
Telepon berdering membangunkanku yang siang itu baru saja mulai memejamkan mata karena lelah semalaman belajar untuk menghadapi Ujian Caturwulan 2 kelas III SMP. Akupun terpaksa bangun dari tempat tidurku dan mengangkat gagang telepon.
“Halo…” sapaku dengan nada lemas karena masih mengantuk.
“Va, Lukman udah nggak ada.” kata Astry dengan nada lirih kepadaku.
“Kamu ngomong apa sih, As? Aku nggak mudeng!” tanyaku dengan nada sedikit marah kepada Astry.
“Lukman meninggal dunia tadi pagi.” jelas Astry diiringi sura tangisannya yang tersedu-sedu.
“Lukman meninggal? Yang bener kamu? Jangan bercanda gitu!” tanyaku dengan nada tidak percaya.
“Aku nggak bercanda, Va. Penyakit jantungnya kumat, nyawanya nggak tertolong. Dia meninggal dunia.” jelas Astry meyakinkan aku lagi.
Air mataku mengalir deras dengan sendirinya. Jantung ini berdetak dengan sangat kencang. Terbayang-bayang olehku wajah manis sahabatku Lukman.
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun.” ucapku tak berdaya karena masih terkejut.
“Va, kamu nggak apa-apa
kan? Sabar ya,
Va.” kata Astry menenangkanku.
“Kamu udah layat belum? Temenin aku layat yuk!” pintaku dengan nada memohon.
“Iya, kamu sekarang siap-siap, aku tunggu di rumahku ya, ni temen-temen juga mau kesini. Nanti kita layatnya bareng-bareng.” kata Astry.
“Tungguin aku ya. Aku ganti baju dulu. Sepuluh menit lagi aku sampai.” jawabku dengan nada menangis.
Saat itu juga kuletakkan gagang telepon dan aku berlari menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Aku ganti baju dan langsung menuju ke rumah Astry berjalan kaki dengan tergesa-gesa. Rumahku dan rumah Astry tidak terlalu jauh, hanya terpaut 3 gang. Sedangkan rumah Lukman terpaut 2 gang dengan rumah Astry.
Di rumah Astry teman-teman sudah berkumpul. Tanpa menunggu lama lagi, aku, Astry, Iis, Bervy, dan Siti langsung bergegas menuju ke rumah duka dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan kami berlima tak dapat menahan kesedihan kami. Air mata masih terus menetes dari pelupuk mataku. Aku tak merasa malu walaupun orang-orang di sepanjang jalan melihatku menangis. Yang ada dipikiranku saat itu hanyalah aku ingin melihat Lukman untuk terakhir kalinya.
Kami tiba di rumah Lukman. Kami dipersilahkan langsung masuk ke dalam rumah. Terlihat tubuh kaku yang terbaring diatas tempat tidur dengan ditutup kain batik yang menutupi tubuh Lukman yang sudah tidak bernyawa. Aku masih tidak percaya jika itu adalah jenazah Lukman.
“Sini mbak, silahkan masuk.” pinta seorang wanita paruh baya. Wanita yang tampak sangat sedih, tapi dia berusaha untuk tegar. Wanita itu adalah ibunya Lukman. Matanya merah dan bengkak memperlihatkan kesedihan karena kehilangan satu-satunya anak laki-laki yang dia sangat disayanginya.
“Terima kasih, Bu.” jawab kami tidak kompak.
Aku, Astry, Bervy, Iis, Siti, dan Lukman adalah teman sejak
TamanKanak-kanak dan Sekolah Dasar. Setelah lulus SD, kami bersekolah di sekolah yang berbeda-beda, namun kami masih sering bertemu dan main bersama.
“Bu, Lukman meninggalnya kenapa?” tanya Astry sambil menangis.
“Tadi pagi jam 5, Lukman mengeluh jantungnya sakit, kepalanya pusing, dan badannya demam tinggi. Ibu langsung membawa Lukman ke rumah sakit Kariadi. Lukman dipasangkan selang oksigen, diinfus dan disuntik untuk pertolongan pertama. Awalnya kondisinya mulai stabil, sekitar jam 8 pagi tadi badannya menggigil dan mengeluh kalau dia sudah tidak kuat lagi. Lalu Lukman dibawa ke ruang perawatan, namun belum sampai di ruang perawatan, Lukman sudah meninggal.” jelas Ibu Lukman sambil menangis.
Isak tangis kami tak dapat ditahan lagi. Air mata tak henti-hentinya mengalir. Yang terbayang olehku adalah kenangan-kenangan terakhirku bersamanya.
Waktu itu tanggal 10 Februari 2002 Lukman meneleponku. Tak biasanya Lukman meneleponku, biasanya dia langsung datang ke rumahku. Di telepon dia memintaku bertukar-tukaran cokelat dengannya pada saat hari valentine. Dia memintaku berkunjung ke sekolahnya pada saat pulang sekolah untuk menukarkan cokelat dengannya. Tapi sayangnya pada tanggal 14 Februari 2002 aku tidak bisa menemui Lukman di sekolahnya karena aku ada jam tambahan pelajaran di sekolah.
Aku menitipkan cokelat itu pada Astry yang merupakan teman satu sekolah Lukman. Keesokan harinya Astry memberikan cokelat dari Lukman kepadaku. Setelah sekian lama bersahabat, Lukman belum pernah mengajak aku bertukar cokelat sebelumnya pada saat hari valentine.
Aku menangis dan tak henti-hentinya meminta maaf pada jenazah Lukaman yang terbaring kaku dihadapanku. Aku sangat menyesal tidak memenuhi keinginanya pada saat itu. Mungkin ini adalah suatu pertanda kalau Lukman akan meninggalkanku, jadi dia ingin merayakan hari valentine bersama sahabatnya, namun aku telah mengecewakannya.
“Mbak, mau melihat wajah Lukman? Kalau mau Ibu bukakan penutupnya.” tanya Ibu Lukman kepada kami berlima.
“Mau ngliat nggak? Kalau aku mau melihat buat terakhir kalinya.” tambah Iis.
“Iya, mau.” jawabku menyetujui pendapat Iis.
Sesaat kemudian kain penutup yang menutupi wajah Lukman dibuka oleh ibunya. Wajah Lukman tampak bersih bersinar dan bibirnya tersenyum manis sekali. Mungkin karena semasa hidupnya Lukman adalah anak yang rajin beribadah dan suka membantu pekerjaan ibunya.
“Subhaanallaah.” seruku ketika melihat wajah Lukman untuk yang terakhir kalinya.
“Mbak, kemarin sebelum meninggal, Lukman meminnta izin tanggal 13 Maret dia minta diadakan syukuran ulang tahunnya. Tapi, tinggal sebentar lagi dia sudah nggak ada.” kata Ibu Lukman sambil menangis dan menutupkan kembali kain penutup ke wajah Lukman.
Mendengar cerita Ibunya, perasaan kami semakin sedih. Sembilan hari lagi Lukman berulang tahun. Tapi di tanggal 4 Maret 2002 meninggal dunia.
“Bu, sabar ya, ikhlasin Lukman supaya mendapat tempat yang layak di sisi Allah. Lukman anak yang baik dan sholeh.” kata Astry menenangkan Ibu Lukman.
“Bu, kenapa Lukaman tidak langsung dimakamkan hari ini?” tanya Bervy.
“Kami menunggu eyangnya dari Madura yang masih dalam perjalanan ke
Semarang. Insya Allah besok pagi jam 10, Lukman dimakamkan di Bergota.” jelas Ibu Lukman.
“Bu, maaf, kami tidak bisa datang pada saat pemakamannya Lukman. Besok kami ada ujian Caturwulan 2.” kata Siti kepada Ibu Lukman.
“Iya, nggak apa-apa. Terima kasih ya kalian sudah meluangkan waktu kesini.” jawab Ibu Lukman.
“Bu, kami berlima meminta maaf kepada Ibu dan keluarga kalau kami pernah berbuat kesalahan pada Ibu dan keluarga.” kataku kepada Ibu Lukman.
“Iya, mbak, sama-sama. Ibu juga mewakili almarhum Lukman meminta maaf atas kesalahan dan kekhilafan Lukman semasa hidupnya.” Kata Ibu Lukman.
Kami berlima akhirnya berpamitan kepada Ibu Lukaman setelah membacakan Yasin dan doa untuk jenazah Lukman.
Aku dan Lukman adalah teman semenjak SD. Kedekatan kami berawal ketika kami duduk satu bangku. Waktu itu kami kelas IV SD. Lukman sering bercerita kepadaku tentang penyakitnya. Setiap satu bulan sekali Lukman harus kontrol ke dokter karena penyakit jantung bawaan yang dideritanya. Ayah Lukman sudah terlebih dahulu meninggal juga karena penyakit jantung. Tapi menurut cerita Ibunya, semenjak Lukman lulus SD, Lukman susah sekali diajak kontrol ke dokter.
Aku tidak pernah menduga, secepat ini Lukman akan meninggalkan kami semua untuk selamanya. Aku tidak akan pernah melupakanmu sahabat. Selamat jalan sahabat semoga amalmu diterima di sisi Allah dan diampuni semua dosa-dosamu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar